Minggu, 25 Desember 2011

Laki-Laki Dilarang Mengkonsumsi “Lungsuran Tumpek Kandang” Di Desa Dalung


Nama               : Si Luh Putu Nita Utami
NIM                : 0912011005
Kelas               : VB
Mata Kuliah    : Produksi
Jurusan            : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Laki-Laki Dilarang Mengkonsumsi  “Lungsuran Tumpek Kandang” Di Desa Dalung
Masyarakat Bali memang sebagian besar lebih percaya dengan yang namanya mitos. Pengertian Mitos menurut KBBI merupakan cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib. Peranan mitos sebagai contoh model kadang-kadang mengandung suatu tanggung jawab yang amat berat bagi masyarakat. Misalnya mitos tentang “Laki-laki Dilarang Mengkonsumsi Lungsuran Tumpek Kandang”. Mitos ini dipercayai oleh masyarakat Desa Adat Dalung Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung.  
Rahinan Tumpek Kandang jatuh pada hari Sabtu Uye (Saniscara Wuku Uye). Rahinan Tumpek Kandang merupakan penghormatan bagi hewan peliharaan yang menjadi cerminan penerapan Tri Hita Karana yaitu menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Selayaknya hari raya yang diperingati oleh umat Hindu, Rahinan Tumpek Kandang juga diperingati dengan menghaturkan berbagai macam “banten” kehadapan Ida sang Hyang Widhi. Setelah prosesi persembahyangan selesai, biasanya ada bermacam-macam “lungsuran” seperti buah-buahan, jajan bali bahkan daging ayam. Namun ada kebiasaan yang berbeda dengan “Lungsuran Tumpek Kandang” ini. “Lungsuran Tumpek kandang” di Desa Dalung tidak boleh dikonsumsi oleh kaum laki-laki. Mengapa hal itu dilarang?
Konon katanya jika kaum laki-laki mengkonsumsi “Lungsuran Tumpek Kandang” akan mengakibatkan laki-laki itu takut dengan pasangannya. Hal ini sering diistilahkan dengan “Paid Bangkung”. Memang hal ini belum pernah dapat dibuktikan secara nyata apakah benar seorang laki-laki yang mengkonsumsi “Lungsuran” tersebut akan takut terhadap pasangannya. “Paid Bangkung” memang sering ditujukan kepada kaum laki-laki Bali yang takut atau tunduk terhadap pasangannya. Jika dipikirkan secara logika, hal ini tentunya kurang logis. Tidak mungkin rasanya jika gara-gara mengkonsumsi “Lungsuran” seseorang akan menjadi tunduk terhadap pasangannya.
Sempat menggali informasi dari kelihan adat Desa Dalung yang membenarkan adanya pantangan tersebut. Beliau memberikan sedikit informasi mengenai larangan kaum laki-laki untuk tidak mengkonsumsi “Lungsuran Tumpek Kandang”. Hal yang dipaparkan pun sejalan dengan yang dicerita oleh beberapa “penua”. “Paid Bangkung” memberikan sedikit gambaran bahwa seorang laki-laki takut atau tunduk kepada pasangannya. “Jika pikir-pikir memang agak tidak masuk akal jika seorang laki-laki akan menjadi tunduk hanya karena mengkonsumsi “Lungsuran Tumpek Kandang” . Tetapi itulah, namanya juga mitos mau dipercaya atau tidak kembali lagi kepada individu masing-masing”, ungkap Kelihan Adat.
Begitu kuatnya kekuatan mitos ini sehingga tak seorang pun di keluarga saya berani mengkonsumsi “Lungsuran Tumpek Kandang” ini. Rahinan Tumpek Kandang tidak memiliki larangan atau pantangan yang lain selain laki-laki tidak boleh mengkonsumsi “Lungsurannya”. “banten” yang dipergunakan pun hampir sama dengan “banten”-”banten” yang digunakan di daerah lainnya. Tetuasan atau reringgit yang ada dalam sampian pun hampir sama dengan daerah lain. Itulah pantangan yang ada di daerah saya, yaitu Desa Adat Dalung mengenai “ Laki-Laki Dilarang Mengkonsumsi Lungsuran Tumpek Kandang”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar